Sekarang

"Peep, kemana kau hari ini?" tanya opa, ketika dia baru saja keluar dari kamarnya.

"Sudah, tenang saja, aku hanya pergi sebentar" jawabku untuk menenangkannya "aku akan menemui temanku, aku akan pulang setelah petang, kau ingin pesan sesuatu?" sambungku.

Dia kakekku, usianya sudah tua, mungkin sekitar 60-an, lumayanlah. Tapi jangan salah, badannya masih bugar, bahkan, jika kau dan dia di adu untuk angkat barbel, dia yang akan menang. Wajar saja, dari dulu dia sudah terbiasa kerja yang berat-berat, dari yang dulu kerja tambang, buruh pabrik, kuli bangunan, sampai sekarang di usia tua nya dia masih mengurusi kebun di belakang rumah, lumayan luas lah, ada beberapa jenis buah yang bisa kau makan saat akan panen, tapi kalau sekarang belum, karena baru selesai dipanen minggu lalu, artinya kau terlambat.

Setelah berkemas aku langsung pergi, singgah sebentar ke meja makan, menyambar roti selai yang sudah disiapkan kakekku, dan lalu mencium pipinya.

"Ummmmmaah..." mungkin begitulah bunyinya "aku pergi dulu opa" sapa ku dari pintu saat akan keluar meninggalkan rumah.

"Hati-hati" jawaban dengan suara khasnya yang sudah tua, "opa nitip, pulang nanti bawakan roti tawar, didapur sudah tinggal sedikit" pinta opa, karena tadi aku menawarkan apa yang ingin dia pesan, karena aku akan keluar rumah dan melewati pasar syalawan. Dia masih saja seperti dulu, masih tetap menyayangiku.

Menyantap roti dibawah dinginnya suhu kota ini, kebetulan sekarang musim dingin, jadi aku harus menggunakan baju belapis-lapis, mulai dari sweater, jacket parasut, sampai mantel dingin bekas punya almarhum nenekku.

Wajar rasanya kalau opa selalu khawatir kepadaku, karena hanya ada aku untuk menemani hari tuanya, begitupun aku, cuma punya opa untuk menemani hari-hariku. Rasanya aku ingin dia ada bersamaku selamanya, tidak usah dijemput nyawanya.

Hah, baiklah, cukup sudah membahas opa ku, nanti kupingnya panas kalau diceritain terus. Aku pergi untuk bertemu sahabat lamaku, yang kebetulan main ke kota ini, rindu pasti, sudah lama kami tak bertemu, mungkin sudah 10 tahun kalau aku tidak salah, kalau tidak salah, ya berarti benar (heheh).

Dari rumah aku harus jalan kaki ke pinggir kota, karena rumah kakek dibangun ditanah kosong namun diantara pohon-pohon cemara, masalahnya kalau kubilang hutan, nyatanya bukan hutan, tapi yang jelas agak jauh dari kebisingan kota dan jalanan, itu sebabnya aku nyaman kalau ada dirumah. Jalan, sekitar 30 menit untuk sampai jalan raya, lalu harus menunggu bus dihalte yang ada disana. Alasanku naik bus ya biar iritlah pastinya, lagi pula dikota ini juga memang begitu, jarang kalau naik mobil dengan urusan sendiri, naik mobil itu kalau akan pergi jauh bareng keluarga, atau atas kerjaan (mobil kantor).

Beginilah keadaan kota ini, siang, terik, suhunya dingin, kalau malam, gelap, semakin dingin.

Dari bus ini kalian bisa lihat keliling suasana kota ini, gedung-gedung tinggi, yang kadang membuat matahari hilang dari pencahayaannya, kalian bisa melihatnya lewat kaca-kaca jendela bus ini.

Rasanya amat sangat ingin aku kembali pada kehidupan sebelumnya, maksudku sebelum aku pindah kekota ini dengan opa. Iya, tinggal dikaki gunung, sejuk, segar, matapun bisa memandang sejauh-jauhnya, tak ada lagi penghalang.

Oh, aku sampai lupa, kalian pasti akan menunggu. Yups, benar, perjalanan ini akan lama, mungkin sekitar 1 jam lebih, sambil kamu menunggu aku akan kenalkan diriku.

Kamu akan tahu namaku saat opa memanggilku tadi, yeah, namaku Peep. Lalu kalian akan bertanya, siapa Abash? Abash yang jadi judul buku ini, kok Peep yang muncul?, tenang, nanti aku akan ceritakan semua, tapi sebelum itu, izinkan aku bertemu sahabatku lebih dulu, rindu rasanya diriku ini, sangaaaat rindu, kalau ada ukuran tertinggi, maka ukuran itu yang akan kupakai untuk mengukur rasa rindu ku.

Lalu, akan kuceritakan sedikit tentang diriku. Aku tinggal dengan opa-ku sejak usia 5 tahun, dengan oma juga, tapi oma meninggal 2 tahun lalu, karena usianya memang sudah tua, dan itu yang membuat opa untuk pindah, sedikit lebih dekat dengan kota. Ya, agar lebih dekat untuk kerumah sakit jika sewaktu-waktu opa sakit berat, karena memang usianya kan sudah cukup tua, jadi mungkin saja kalau dia mudah terserang penyakit, tapi aku berdoa jangan sampai, kalau opa pergi, siapa yang akan menjagaku?.

Lalu orang tua ku?, ya, saat aku usia ku 5 tahun, ayah dan ibu mengalami kecelakaan mobil saat mau mengunjungi rumah opa dan oma saat masih tinggal dikaki gunung, saat itu badai tiba-tiba turun, sehingga membuat jalanan menjadi licin, dan juga membuat pandangan terganggu, karena cuacanya begitu gelap. Aku sedih juga bersyukur, sedih karena orang tuaku pergi meninggalkan aku yang masih kecil, dan bersyukur, karena aku masih punya opa dan oma, saat itu aku sedang berada dirumah opa dan oma, itu sebabnya aku tidak jadi korban dalam kecelakaan orang tua ku, aku bersyukur masih ada mereka, walau sekarang cuma ada opa, itulah alasannya, kenapa aku takut sekali kehilangan opa, dan opa pun begitu, apalagi kalau mengingat kejadian 10 tahun lalu, masih menjadi kenangan abadi bagiku, pengalaman dan perjalanan yang luar biasa, aku masih belum bisa menjelaskan bagaimana kalau seandainya  bukan aku yang mengalami semua ini. Walaupun kami harus kehilangan Abash dalam petualangan itu, tapi sebenarnya kami juga tak menyangka petualangan itu akan meninggalkan kenangan pedih bagi kami. Tapi aku tidak menceritakan semua ini pada opa, aku tahu dia pasti akan sangat lebih khawatir lebih dari ini padaku, lebih lebih lebih pokoknya, kalau sampai dia tahu aku pernah mengalami hal itu, apa lagi kalau tahu Abash tak ikut kembali pulang.

Ehh, sudah sampai nih, nanti kita lanjutkan ya, aku akan temui sahabat aku dulu, kalian pasti akan terkejut jika tahu siapa sahabatku ini.

Setelah turun dari bus, aku langsung berjalan meninggalkan halte, menuju cafe, dan disana dia sudah menunggu aku, dia yang ku maksud adalah sahabatku, jaraknya tidak terlalu jauh dari halte tempat aku turun dari bus tadi, mungkin hanya beberapa meter, berjalanpun hanya 5 menit.

Dari sini terlihat etalase cafe itu, penuh dengan kaca dan tulisan dari stiker warna putih, teras yang di penuhi lampu-lampu neon yang memberikan nuansa klasik pada cafe itu. Setelah sampai, langsung saja aku masuk, karena pintu itu akan tertutup sendiri nantinya, karena terdapat tuas di atas pintu itu yang menghubungkannya dengan kusennya.

"Hai peep" sapa Beg dari mejanya ketika dia melihatku yang sedang bingung mencari dirinya. Mejanya agak jauh dari pintu masuk, mungkin agak kebelakang.

Setelah aku dapatkan dia yang sedang melambaikan tangan, aku pun membalas lambaian tanganku sambil mengembangkan senyum pada bibirku yang manis, seraya menunjukkan wajahku yang amat sangat merindukan dirinya, sebagai sahabatku, lalu aku langsung berjalan menghampirinya.

Ya, dia adalah Beg, sahabatku, juga sahabat Abash, malah sebenarnya, dengan Abash lah Beg lebih akrab, mungkin sudah seperti kakak beradik. Kebetulan dia sedang liburan dari kuliahnya di Amerika. Ya, jadi dia menyempatkan untuk singgah ke kotaku, sekalian untuk temu kangen lah, sudah hampir 10 tahun kami tak pernah ketemu, bahkan komunikasi saja baru 1 tahun belakangan ini, karena mungkin Beg sibuk dengan kuliahnya, dan aku juga, sibuk dengan kuliahku disini.

"Hai peep, apa kabar kamu?" sambut Beg saat aku sudah tiba dimejanya.

"Baik beg, kamu gimana?" aku pun menanyanya kembali. "Gila, makin keren aja lu, ini perut apa gentong susu" kataku, sambil sedikit bercanda dengan menepuk perutnya yang buncit seperti ibu hamil, dengan gaya ku, ya sedikit seperti gaya lelaki.

Ya itu lah aku sekarang, dan 10 tahun yang lalu, masih saja sangar dengan gaya tomboy ku, tapi tetap aku menyukai lelaki, aku bukan penyuka sesama jenis ya.

"Auhh" keluhnya, merasa pura-pura sakit, atau mungkin sakit beneran, "gak berubah lu ya, masih aja sangar" sambungnya sambil memuji juga mengeluh.

Ya, anggap sajalah itu salam pembuka dariku, untuk Beg yang sudah lama menghilang tanpa kabar.

"Jadi gimana kuliahmu di Amerika?" tanyaku sambil memulai duduk, dan melambaikan tangan memanggil waiters di cafe itu.

"Baik, lancar" jawabnya simple "kalau aku gak bermasalah dan gak buat masalah, mudah-mudahan 1 tahun lagi selesai" sambungnya untuk menjelaskan bahwa kuliahnya akan selesai.

"Keren dong, setelah lulus nanti bakal netap dimana?" tanyaku lagi "di Amerika atau disini?".

Wajarlah kalau aku banyak tanya, ya iyalah, mungkin kamu juga begitu, ketika punya sahabat yang solid, solid banget, deket banget, mungkin seperti saudara, atau mungkin kami saudara beda bapak, beda ibu (hahah), dan 10 tahun menghilang tanpa kabar, lalu tiba-tiba dapat kabar kalau akan kembali dan ingin berjumpa, dan saat bertemu akan menggali dan mengorek kisah dirinya selama 10 tahun menghilang itu, mungkin akan habis waktu 10 tahun juga untuk menyelesaikan ceritanya.

"Mungkin aku akan tinggal disini" jawab Beg, "banyak hal yang ingin aku rasakan lagi" sambungnya.

Aku tak mengira dia akan memilih untuk menetap disini, padahal orang tuanya sudah pada pindah ke Amerika, dan lagi pula Amerika jauh lebih keren dari pad disini, tapi itu pilihannya, aku harus mendukungnya, dan juga itu yang sebenarnya aku inginkan (hahah), agar ada temanku untuk berbagi cerita, dan menceritakan petualangan kami.

"Termasuk merasakan kembali bermain ke desa Mazunga" sambungnya lagi

"Oh ya? Kau juga, aku kira cuma aku yang merindukan desa itu" sambutku kegirangan, merasa seperti kebahagiaan datang, karena ada teman yang sama-sama merindukan desa itu.

Padahal dulu aku sempat berpikir untuk tidak akan pernah datang lagi ke desa itu, tapi aku tak bisa berbohong pada raga ini.

"Iya! Ya walaupun agak takut juga aku kalau ingat-ingat kejadian yang dulu" lanjut Beg, sambil membayang-bayangkan yang dia rasakan saat ke desa itu.

"Hahaha... Iya bener banget, malah aku sempat bersumpah, kalau aku gak akan pernah kesana lagi" jawab ku

"Iyalah, wajar kalau kau mikir gitu, aku juga mungkin, tapi sayangnya, kemegahan desa itu membuat hatiku ingin kembali" sambung Beg yang sedang melayang membayangkan kembali desa Mazunga yang pernah kami jajaki dulu.

Percakapan itu cukup singkat, sederhana, tapi terasa begitu hangat, mengingat hal yang sangat luar biasa yang mungkin kamu juga tak bisa dapatkan. Hingga pada akhirnya kami tak sadar kalau makanan yang kami pesan sudah datang.

Sambil menyantap makanan, sekaligus makan siang, kami terus berbincang, jauh, untuk melepas kerinduan.

"Jadi, setelah 10 tahun ini kau gak pernah balik ke desa Mazunga?" tanya Beg sambil menikmati corn soup hangat yang ia pesab.

"Jangan kembali ke desa, bahkan untuk singgah ke rumah Abash saja aku tidak pernah" jawabku sambil sedikit merasa bersalah pada keluarga Abash.

"Oh ya? Lalu bagaimana keluarga Abash selama ini?" tanya Beg lagi yang langsung teringat tentang keluarga Abash.

"Kurang tahu juga, tapi aku dapat kabar, kalau mereka tetap belum bisa menerima kalau Abash dikabarkan hilang!" jawabku sambil memberi tahu informasi yang aku dapat dari teman kuliahku yang tinggal dekat rumah keluarga Abash. Itupun informasi yang aku dapat saat mereka bergosip bersama temannya, aku ya, hanya nguping aja.

"Bahkan sampai sekarang, orang tua Abash masih terus kembali ke kantor polisi" kataku lagu, terus menjelaskan kepada Beg yang tak tahu lagi kabar tentang keluarga Abash, bahkan kepada keluargaku pun dia tak tahu kabarnya.

"Begitu ya?" jawab Beg mencoba memahami keadaan semuanya setelah 10 tahun berlalu, "sebenarnya aku juga ingin mengajakmu, bagaimana kalau kita datang kerumah keluarga Abash, ya melihat keadaannya langsung" lanjut Beg, yang ingin melihat keadaan keluarga Abash.

"Boleh juuuga siiiiih!" jawabku panjang, berpikir antara ragu atau tidak, "jadi kapan?" tanyaku memastikan keputusan Beg.

"Bagaimana kalau lusa?" jawab Beg, tapi seperti mengajak berunding, mengira kalau aku tidak bisa ikut.

"Boleh tuh, kebetulan kan kita juga lagi libur kuliah" jawabku mengiyakan pertanyaannya, "berarti besok kau harus kerumahku!" kataku lagi.

"Kenapa begitu?" tanya Beg yang sedikit kebingungan

"Karena kau harus bertemu dengan opa ku, dan meminta izin padanya?" kataku menjelaskan sambil tersenyum manis

"Loh kok aku?" jawab Beg, dia semakin bingung

"Iya, aku hanya gak mau opa nanti mengkhawatirkan aku saat aku pergi" kataku mencoba menjelaskan dengan serius

"Ohh... Oke lah, besok aku akan kerumahmu" jawab Beg, dan ia mulai paham dan mengerti dengan hal itu, "kalau begitu beri aku alamatmu" lanjut Beg, meminta alamatku agar dia tidak kesasar besok saat akan kerumahku.

Setelah selesai makan ini, aku meminta Beg untuk menemaniku membeli roti pesanan opa. Ya, sekaligus mengajak dia jalan-jalan sebentar di kota ini. Kotanya kecil, tapi cukup padat elite.

Sebenarnya beli rotinya hanya sebentar, tapi setelah membeli roti aku ajak Beg untuk main ke kampusku. Ya, jalan-jalan doang sih, lagian kalau kami jalan berdua juga gak ada yang cemburu (ehehe), kan sama-sama single (beda sama jomblo ya).

Ya, sampai akhirnya sore datang, dan aku masih bersama Beg kembali melewati cafe tadi menuju halte bus menuju rumah opa, sekalian ngasih tahu dia besok naik bus apa dan dihalte mana.

Akhirnya bus ku datang. Aku pulang, kutinggalkan Beg dihalte itu, aku gak tahu dia akan kemana, pulang atau akan jalan-jalan sendiri, aku gak khawatir, dia juga sudah gede ini.

Dan itulah hari ini, sekarang dari 10 tahun yang lalu. Membuat ingatanku kembali kental tentang petualangan bersama Beg dan Abash, didesa Mazunga. Apalagi Beg juga akan berada disini untuk waktu yang cukup lama, rasanya aku bisa menyatukan apa yang aku pikirkan dan apa yang Beg pikirkan saat itu, saat ki berada di desa Mazunga, atau mungkin kami juga gak habis pikir, kenapa harus aku, Beg, dan Abash yang harus kenal dengan desa Mazunga. Tapi, apapun jawabannya aku akan berterima kasih banyak atas kesempata , dan pengalaman itu. Dan lewat buku ini, semoga kamu senang, dan merasakan apa yang aku, Beg, dan Abash rasakan.

Komentar

Postingan Populer